Tuesday, March 19, 2013

Menunggu Helikopter Bareng Babi


Tembagapura - Kawasan pedalaman Papua begitu tergantung dengan alat transportasi udara. Tidak hanya manusia, hewan pun perlu diangkut. Menunggu helikopter bersama seekor babi, bukan hal yang mustahil.

Tim Dream Destination Papua merasakan pengalaman unik ini saat hendak terbang ke Puncak Cartenz pada Sabtu (9/3/2013) lalu. Kami menunggu di Helipad Mile Post 66 Tembagapura.

Helipad seluas sektiar 400 m2 ini menjadi tempat datang dan perginya pegawai PT Freeport Indonesia ke Timika atau ke tempat-tempat lain. Alat transportasi utamanya tentu saja helikopter yang dioperasikan oleh Airfast.

Helikopter ini rupanya tidak hanya digunakan oleh pegawai Freeport. Para tamu Freeport, jajaran Pemda dan aparat setempat, serta warga lokal juga bepergian melalui helipad ini dengan helikopter.

Maklum saja, di sekitar Tembagapura, banyak desa terisolir yang hanya bisa diakses dari udara. Mereka kebanyakan perkampungan Suku Amungme dan beberapa suku lain. Mereka sering ikut helikopter Freeport.

Sambil menunggu helikopter kami datang, kesempatan pagi itu dimanfaatkan untuk melihat aktivitas di Helipad Mile Post 66. Sambil menahan udara dingin, saya melihat sibuknya helipad pagi itu. Ada helikopter mendarat membawa pegawai PT Freeport dan tamunya dari Timika.

Helikopter lantas pulang lagi ke Timika membawa pegawai dan tamu dari Tembagapura. Selepas itu, datang lagi helikopter membawa rombongan Polda Papua. Bahkan, helikopter sempat menurunkan orang sakit dengan ditandu dan juga ada helikopter yang khusus menurunkan barang logistik yang digantung di bawah helikopter.

Nah, di pinggir helipad, banyak warga lokal Papua juga menunggu giliran naik helikopter. Para mama, sebutan perempuan Papua dengan tas noken besar disangkutkan di kepala dengan sabar menunggu helikopter datang. Pada pria juga dengan aneka kardus barang bergerombol di pinggir.

Nguik! Nguik! Suara unik membuat saya menoleh ke belakang. Wah rupanya ada sekelompok warga Papua mendorong-dorong babi. Rupanya, babi juga mau naik helikopter.

"Mau ada peresmian gereja di salah satu desa. Ini babi untuk dimakan bersama," ujar salah satu dari mereka ketika ditanya detikTravel.

Si babi rupanya takut dengan helikopter. Beberapa orang mencoba mendorong babi dari belakang karena mogok berjalan. Huuuup! Berat juga. Si babi tidak mau maju dan akhirnya digotong empat orang ke pinggir helipad.

"Ah tidak terlalu besar ini, mungkin hanya 50 kg," celetuk kru pemandu helikopter yang mengatur naik turun penumpang.

Walhasil, jadilah kami pagi itu menunggu helikopter bareng babi. Namun si babi harus sedikit bersabar, helikopter selanjutnya yang datang adalah untuk Tim Dream Destination Papua. Selamat tinggal!

0 komentar:

Post a Comment