Tuesday, January 29, 2013

Jelajah Sumatera Barat, Alam dan Kulinernya Ranca Bana!


detikTravel Community - 

Sumatera Barat adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Di sana, Anda dapat melihat hamparan alam yang memesona di Ngarai Sianok, bangunan eksotis berupa Jam gadang, atau pun kuliner mantap Sate Mak Syukur. Ranca bana!

Perjalanan dimulai di Kota Padang. Pesawat mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Minangkabau, lalu selanjutnya saya langsung berkeliling Kota Padang ini. Pelintasan pertama saya adalah Pantai Padang, sebuah pantai memanjang yang di tepinya banyak terdapat tenda-tenda yang menyajikan berbagai jenis makanan. Di sinilah saya menikmati seafood sebagai santap malam.

Keesokan paginya, saya menuju tujuan utama yang memang ingin dikunjungi, yaitu Jam Gadang atau jam besar yang merupakan ikon Kota Bukittinggi. Tetapi sebelumnya, saya sempat mampir di salah satu warung sate Padang bernama Mak Syukur. Sebetulnya tidak ada niat saya untuk berhenti dan makan sate Padang, karena ingin langsung menuju Bukittinggi dan mencicipi Rendang asli Minagkabau serta nasi kapau.

Tetapi, karena diberitahu bahwa sate Padang Mak Syukur memiliki rasa yang khas, akhirnya saya penasaran dan membeli satu bungkus untuk disantap dalam mobil. Baru satu tusuk pertama, saya sudah ketagihan. Rasa kuahnya sangat gurih dan nikmat, berbeda sekali dengan yang pernah saya cicipi sebelumnya. Alhasil, saya berjanji untuk kembali untuk menikmatinya suatu hari nanti.

Selanjutnya, saya singgah di air terjun Lembah Anai. Sebuah air terjun setinggi kurang lebih 30 meter yang terletak di tepi jalan dan rel kereta api yang sudah tidak digunakan lagi. Unik rasanya, melintas di jalan yang disampingnya ada air terjun dan lintasan rel kereta api. Bahkan, rel kereta di sini merupakan rel kereta bergigi, yang selama ini saya kira hanya ada di Ambarawa.

Dan tibalah waktunya santap siang, kali ini keinginan saya tercapai untuk mencicipi rendang asli Minangkabau dan nasi kapau. Tentunya, dengan ditemani segelas kopi.

Setelah santap siang, perjalanan dilanjutkan dan tibalah saya di tujuan utama, yaitu Jam Gadang. Selama ini hanya saya kenal di buku pelajaran SD puluhan tahun yang lalu, tapi sekarang jam ini berdiri tegak dan kokoh di depan mata saya.

Jam Gadang terletak di pusat Kota Bukittinggi. Sebuah jam yang dibuat pada tahun 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, seorang sekretaris atau controleur di Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi).

Jam tersebut berukuran tinggi 26 Meter dengan 4 jam berdiameter masing-masing 80 cm, yang langsung didatangkan dari Rotterdam, Belanda. Didatangkannya melalui Pelabuhan Teluk Bayur.

Jamnya digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang dan Big Ben di London, Inggris. Jujur, saya baru mengatahui hal ini seminggu kemudian. Ada rasa bangga bahwa Jam Gadang bisa dikatakan sebagai kembarannya Big Ben.

Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campuran bangunannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih. Keunikan dari Jam Gadang sendiri adalah pada penulisan angka romawi empat (IV) pada masing-masing jam yang tertulis IIII.

Cukup lama saya mengagumi dan berfoto dengan latar belakang Jam Gadang, sampai akhirnya saya harus meninggalkannya. Ada sedikit rasa sedih meninggalkan keindahan Jam Gandang tersebut. Sebagai informasi tambahan, di depan lokasi Jam Gadang juga terdapat Istana Bung Hatta Bukittinggi, yang pada kesempatan ini belum saya jelajahi.

Dalam perjalanan pulang, saya mengunjungi Ngarai Sianok. Sebuah lembah sedalam 100 meter dengan pemandangan alam yang indah nan hijau. Sungguh menyejukkan hati, serta memberikan kesan yang sejuk dimata dan damai di hati. Apalagi saya ditemani oleh monyet-monyet yang bebas berkeliaran di sekitar Ngarai Sianok.

Perjalanan pulang, saya melewati jalur yang berbeda dengan jalur berangkat. Saya sengaja dibawa melalui jalur berkelok-kelok sepanjang kurang lebih 10 kilometer, yang disebut Kelok 44. Di sini terdapat pemandangan hijau yang asri dan monyet-monyet di tepi jalan, tetapi perjalanan ini sangat membuat saya pusing.

Sampai akhirnya, saya tiba di Danau Maninjau, yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Semua rasa pusing yang disebabkan Kelok 44 sirna seketika, keindahan Danau Maninjau ini telah mengobati saya.

Danau luas 99,5 kilometer persegi, ini merupakan danau terluas ke-9 di Indonesia. Serta, merupakan danau vulkanik bekas letusan Gunung Sitinjau. Danau ini merupakan ke-2 terbesar di Sumatera Barat setelah Danau Singkarak.

Sebenarnya, saya ingin sekali berkunjung ke Danau Singkarak karena mendengar keindahannya dari lomba balap sepeda Tour de Singkarak. Akan tetapi, rasa senang dan puas telah saya rasakan saat turun dari kendaraan dan berjalan ke tepi Danau Maninjau.

Ternyata, Indonesia memiliki banyak danau yang Indah. Bukan hanya Danau Toba seperti yang banyak kita kenal selama ini, keindahan alam di Sumatera Barat ini sungguh menyejukkan hati.

Perjalanan pun saya akhiri saat kembali ke Kota Padang, lalu melanjutkan perjalanan dengan pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sampai Jumpa Kota Padang dan Sumatera Barat. Suatu saat kita akan berjumpa kembali, karena masih banyak yang belum saya kunjungi, seperti Danau Singkarak, Jembatan Siti Bubaya, dan Batu Malin Kundang,

Satu pesan saya, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas Sumatera Barat: rendang kering dan kerupuk Sanjai. Mantap!

0 komentar:

Post a Comment